Rabu, 12 September 2012

Seuntai Kata bernama ‘Kematian’

Seuntai Kata bernama ‘Kematian’
Baca dengan seksama

12.30. Malam ini entah kenapa aku ingin mengingat mati. Satu fase kehidupan yang pasti akan dialami setiap makhluk yang bernyawa. Aku, engkau bahkan semut kecil sekalipun. Aku membayangk
an diriku terbujur kaku, hanya berbalut selembar kain kafan putih. Tidak ada kemeja kesayangan, kalung, cincin, atau sepatu keluaran terbaru yang sering kita pakai. Hanya sendiri, gelap dan sepi. Lambat laun, rupa yang kita bangga-banggakan saat masih muda dulu, perlahan remuk, membusuk, dipenuhi belatung yang mencari santapan makan malam. Hingga tinggal tersisa tulang belulang yang menunggu giliran untuk lenyap. Kembali kebentuk asal. Tanah.

Saat aku dalam takut karena kesepian, tiba-tiba muncul dua sosok makhluk berjubah yang membuat takutku semakin memuncak, “si..si..siapa kalian?”tanyaku dengan bibir bergetar. “kami adalah munkar dan nakir”jawab salah satu dari mereka. Tiba-tiba aku teringat kata guru ngaji sewaktu masih kecil dulu. Bahwa saat manusia di dalam kubur, akan datang dua malaikat bernama munkar dan nakir yang akan menanyai makhluk tentang tuhan, agama dan nabi mereka. Aku berharap mereka datang dengan wajah berseri lagi tersenyum, kemudian bertanya dengan lembutnya, ‘Siapa Tuhanmu?”, Siapa Nabimu?. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan. Lagi-lagi aku berharap mampu menjawab seluruh pertanyaan sehingga aku bisa lulus dengan predikat jazid jiddan. Tapi aku sadar, kelancaran lisanku dalam menjawab setiap pertanyaan adalah buah dari amal ibadah yang kulakukan selama hidup di dunia. Tanpa itu semua, maka lisan ini seolah terkunci, amnesia mendadak. Akhirnya semua menjadi kacau. “Engkau tidak lulus, maka tempatmu neraka”. Naudzubillah tsumma na’udzubillah.

Terbersit rasa takut dalam diri, jika nanti lisanku tiba-tgkau beri aku kesempatan sekali lagi tuk hidup didunia, aku akan memperbaiki kesalahan-kesalahanku, aku akan perbanyak amal kebaikan, aku akan rajin sholat, berbakti pada orang tua dan rajin bersedekah, aku tidak akan menyepelekan dosa-dosa kecil dan aku akan berbuat baik pada sesama.” Ah, tapi sayang saat itu semua sudah terlambat. Nafas telah terhenti. Jantung tidak lagi berfungsi. Darah tidak lagi bereaksi. Dan sang waktu tidak bisa diputar kembali. Kita telah terima rapor kita masing-masing. Keputusan masuk surga atau neraka telah ada dibuku rapor itu. Kita tidak dapat mengelak lagi, karena ada yang akan memberi bukti dengan saksi bisu mereka. yaitu saat mata, telinga, dan tangan menjadi saksi atas tindakan kita selama didunia. Sedang lisan dikunci rapat sehingga kita tidak bisa melakukan protes seperti yang sering kita lakukan saat berlagak jumawa di dunia.

Dan dimalam yang mulai larut ini, aku tengah mengingat mati-dzikru maut. Berharap hati kembali siaga untuk selalu mengingat Allah. Tidak lalai oleh tipu daya dunia yang sering kali melenakan, juga fisik yang pada akhirnya akan menua dan musnah. Aku harus membawa imanku dalam setiap langkah perjalanan hidup ini sambil terus berdo’a semoga dapat selamat dunia dan akhirat. amin
iba menjadi kelu dan kaku. Seluruh jawaban menjadi salah, akhirnya aku mengikuti jejak kaki ahli neraka. Kugenggam buku raporku dengan tangan kiri. Berisi berbagai catatan maksiat baik kecil atau besar. Wajahku tentu akan sangat muram. Aku akan tersedu seraya berkata, “Ya Allah, seandainya En

Tidak ada komentar:

Posting Komentar